Penacyber, Makassar —Mantan Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Rusdi Masse Mappasessu, resmi menjadi amunisi baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah memutuskan hengkang dari Partai NasDem. Kepindahan politikus berpengalaman itu dinilai sebagai langkah strategis PSI dalam memperkuat basis elektoral di Sulawesi Selatan.
Momen bergabungnya Rusdi Masse ke PSI tersaji dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (29/1/2026). Kehadirannya langsung disambut antusias oleh seluruh peserta Rakernas, mulai dari jajaran pengurus DPW hingga DPP PSI dari seluruh Indonesia.
Di hadapan kader PSI, Rusdi Masse menyatakan komitmennya untuk membawa partai yang dipimpin Kaesang Pangarep itu menjadi kekuatan politik yang lebih solid dan kompetitif, khususnya di Sulawesi Selatan. Ia juga meminta publik tidak meragukan rekam jejaknya dalam memenangkan kontestasi elektoral.
Bagi Rusdi, Sulawesi Selatan bukan sekadar wilayah politik, melainkan medan pembuktian yang telah ia taklukkan melalui pengalaman panjangnya di dunia politik.
Pada Pemilu 2024, Rusdi Masse mencatatkan capaian politik signifikan. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua DPW Partai NasDem Sulsel, NasDem keluar sebagai pemenang Pemilu di tingkat provinsi dengan raihan 18 kursi DPRD Sulsel serta berhasil mengamankan posisi Ketua DPRD Sulsel.
Prestasi tersebut tidak hanya berhenti di level daerah. Di tingkat nasional, Rusdi Masse juga sukses mengantarkan lima kader NasDem melenggang ke DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan.
“Masa masih tanya sama saya. Saya sudah buktikan menjadi pemenang kok di Sulsel,” ujar Rusdi Masse sambil tersenyum.
Suami Wakil Gubernur Sulsel, Fatmawati Rusdi, itu menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan bukti konkret kapasitasnya dalam membangun mesin partai dan mengonsolidasikan kekuatan elektoral.
Meski demikian, Rusdi menekankan bahwa kunci kemenangan politik tidak semata bertumpu pada strategi internal atau kekuatan elite. Menurutnya, kemampuan meyakinkan masyarakat tetap menjadi faktor penentu.
“Yang kamu tahu Sulsel punya siapa. Tapi bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa inilah pilihan mereka, itu yang paling penting,” tandasnya.*




