Penacyber, Makassar –Di tengah peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026, lahir pesan simbolik yang kuat dari Surabaya. Bukan sekadar kunjungan seremonial, Politeknik Maritim AMI (Polimarim AMI) Makassar melakukan benchmarking ke Universitas Hang Tuah (UHT) sebuah perguruan tinggi dengan jejak panjang serta reputasi nasional dan internasional dalam pengembangan pendidikan berbasis kemaritiman.
Momentum ini menarik karena menunjukkan bahwa kebangkitan bangsa tidak lagi cukup dimaknai sebagai romantisme sejarah. Kebangkitan sejati justru ditentukan oleh keberanian institusi pendidikan untuk berubah, beradaptasi, dan mengambil posisi sebagai pelopor masa depan.
Sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi maritim terkemuka di Kawasan Timur Indonesia, Polimarim AMI memilih untuk terus bergerak. Kampus ini membangun jejaring, memperkuat kualitas, dan yang terpenting: berani berubah demi mengantisipasi perubahan era yang bergerak sangat cepat.
Di tengah arus digitalisasi, kecerdasan buatan, otomatisasi pelabuhan, green shipping, hingga dinamika geopolitik maritim global, perguruan tinggi yang lambat berubah akan tertinggal. Karena itu, tekad Polimarim AMI menjadi agent of change di bidang kemaritiman bukanlah slogan kosong, melainkan kebutuhan strategis bangsa.
Kunjungan ke UHT menjadi penting karena kampus ini adalah contoh nyata bagaimana institusi vokasi dapat tumbuh menjadi universitas besar tanpa kehilangan identitas maritimnya. Yang menarik, program studi umum di UHT tetap diberi muatan lokal kemaritiman. Hal ini menunjukkan bahwa kemaritiman bukan sekadar jurusan, melainkan paradigma pembangunan.
Dengan lebih dari 70 persen wilayah berupa lautan, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar tenaga kerja maritim dunia. Indonesia harus menjadi pusat inovasi, pusat pendidikan, dan pusat pengembangan SDM kemaritiman global. Sinergi antarperguruan tinggi menjadi kunci utama.
Pertemuan kedua institusi ini juga memperlihatkan wajah pendidikan tinggi yang sehat dan dewasa. Meskipun rombongan Polimarim AMI tiba terlambat sekitar 30 menit akibat keterlambatan pesawat, pimpinan UHT tetap menyambut dengan hangat, terbuka, dan penuh persahabatan. Tidak ada sekat psikologis antara kampus besar dan kampus yang sedang bertumbuh, juga tidak ada kesan merasa lebih maju atau lebih tinggi.
Pimpinan UHT membuka ruang informasi secara luas dan menyatakan kesiapan menjalin kerja sama dalam pengembangan pendidikan akademik maupun vokasi kemaritiman. Sikap inilah yang dibutuhkan Indonesia saat ini: berbagi pengalaman, membangun jaringan, dan bertumbuh bersama.
Pada akhirnya, tantangan kemaritiman Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan sendiri-sendiri. Indonesia membutuhkan lebih banyak kampus yang berani berpikir global tetapi tetap berpijak pada identitas maritim nasional. Indonesia juga membutuhkan perguruan tinggi yang tidak sekadar mencetak ijazah, melainkan melahirkan SDM yang mampu bersaing secara nasional dan global.
Dari Surabaya, pada Hari Kebangkitan Nasional 2026, pesan itu terasa sangat jelas: kebangkitan Indonesia sebagai bangsa maritim tidak akan lahir hanya dari pidato politik, tetapi dari keberanian kampus-kampus untuk berubah, berkolaborasi, dan memimpin masa depan.
Langkah kecil yang dilakukan Polimarim AMI bersama Universitas Hang Tuah mungkin menjadi salah satu nyala awal kebangkitan besar itu. (*)




