Penacyber, PALU – Upaya mendorong transformasi sektor pertanian di Sulawesi Tengah kini memasuki babak baru. Pemerintah Provinsi Sulteng mulai melirik keberhasilan revolusi budidaya jamur di Sichuan, China, sebagai model percepatan pengembangan komoditas pertanian bernilai tinggi.
Keberhasilan Sichuan dalam mengembangkan industri jamur secara modern dinilai bukan sekadar kisah sukses biasa, melainkan contoh konkret bagaimana teknologi, riset, dan manajemen terintegrasi mampu mengubah pertanian tradisional menjadi kekuatan ekonomi global.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan bahwa pengalaman Sichuan menjadi inspirasi penting bagi daerahnya untuk melakukan lompatan besar dalam pembangunan sektor pertanian.
Menurutnya, Sulawesi Tengah tidak boleh lagi bergantung pada pola lama, melainkan harus berani bertransformasi menuju pertanian modern yang produktif dan berorientasi pasar.
“Ini menjadi motivasi bagi kita untuk terus mendorong modernisasi pertanian dan mengembangkan komoditas bernilai ekonomi tinggi,” ujar Anwar Hafid.
IIa menjelaskan, arah pembangunan pertanian Sulteng kini difokuskan pada peningkatan produktivitas sekaligus nilai tambah melalui hilirisasi dan industrialisasi.
Program unggulan daerah, Berani Panen Raya, disebut menjadi instrumen utama dalam mendorong perubahan tersebut. Program ini tidak hanya menargetkan peningkatan produksi, tetapi juga kesejahteraan petani.
“Yang kita kejar bukan sekadar hasil panen, tetapi bagaimana petani kita benar-benar sejahtera. Produktivitas harus naik dan pertanian harus modern,” tegasnya.Saat ini, produktivitas padi di Sulawesi Tengah masih berada di kisaran 4 ton per hektare. Pemerintah menargetkan peningkatan hingga 6 ton per hektare pada tahun 2027 melalui penerapan teknologi pertanian, mekanisasi, dan sistem pengelolaan yang lebih efisien.
Lebih jauh, Anwar Hafid juga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri pertanian yang terintegrasi, seperti yang diterapkan di Sichuan. Menurutnya, kerja sama dengan China bukan hanya soal pertukaran komoditas, tetapi juga transfer teknologi dan penguatan rantai pasok.
Pemerintah Provinsi Sulteng bahkan telah menjajaki kolaborasi strategis dengan Sichuan untuk membangun kawasan industri pertanian yang berorientasi ekspor.
“Sudah saatnya komoditas pertanian kita menembus pasar global melalui industrialisasi berbasis pertanian,” ujar Anwar Hafid.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong komoditas unggulan seperti kakao, kopi, dan durian untuk memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum diekspor, sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor pertanian.
Dengan belajar dari revolusi jamur Sichuan, Sulawesi Tengah kini menatap masa depan pertanian yang lebih modern, kompetitif, dan berkelanjutan—sebuah transformasi yang diyakini dapat menjadikan daerah ini sebagai salah satu lumbung pangan dan pusat agromaritim di Indonesia.




