Penacyber, Makassar– Di balik gemerlap peringatan Hari Kartini yang kerap identik dengan kebaya dan kembang, Kecamatan Tallo memaknai berbeda. Selasa pagi, suasana haru sekaligus hangat membalut Panti Asuhan Kasih Ibu di Jalan Andi Tadde, Kelurahan Kalukuang. Bukan sekadar seremonial, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Tallo, Ny. Dian Friani Husni, membawa misi kepedulian yang bergerak nyata, Selasa 21 April 2026.
Didampingi para Ketua TP PKK Kelurahan se-Kecamatan Tallo serta jajaran pengurus, rombongan datang dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Aksi bakti sosial ini menjadi program unggulan 2026 yang membuktikan bahwa semangat Kartini tak lekang oleh waktujustru menemukan wujudnya dalam berbagi.
“Kartini itu bukan hanya sejarah. Kartini adalah kita yang hari ini memilih untuk hadir dan peduli,” ujar Ny. Dian Friani Husni, saat membuka kegiatan.
Senyum anak-anak panti langsung merekah saat puluhan paket sembako dan pakaian baru dibagikan satu per satu. Bukan karena nilai materinya, melainkan karena ada perhatian tulus yang menyertai setiap bingkisan. Riuh rendah tawa dan pelukan hangat menciptakan atmosfer kekeluargaan yang tak dibuat-buat.
Lebih lanjut, Ny. Dian Friani Husni menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk keberpihakan nyata pada generasi penerus. “Kartini dulu berjuang dengan pena. Kita hari ini berjuang dengan aksi. Membangun asa mereka adalah bentuk emansipasi masa kini,” tegasnya di sela-sela acara.
Selain itu, rombongan juga meluangkan waktu berdialog akrab dengan anak-anak panti. Mereka mendengarkan cerita, cita-cita, bahkan keluhan kecil yang kerap tak tersampaikan. Suasana semakin hangat saat beberapa anak dengan polosnya bercerita ingin menjadi guru, polwan, hingga ustazah.

Diketahui, Panti Asuhan Kasih Ibu menaungi puluhan anak dari berbagai latar belakang. Sebagian masih duduk di bangku SD, sebagian lainnya sudah menginjak bangku SMA. Namun satu yang sama: mereka butuh teladan, bukan sekadar iba.
Dalam wejangannya yang menyentuh, Ketua TP PKK Kecamatan Tallo menekankan keseimbangan hidup. “Pendidikan adalah prioritas nomor satu. Tapi jangan pernah tinggalkan mengaji dan salat. Keduanya harus seimbang, agar langkah kalian selalu diberkahi,” pesannya.
Sambungnya, “Jangan pernah malu dengan keadaan. Masa depan tidak ditentukan dari mana kalian berasal, tapi dari sekuat apa kalian bermimpi dan berusaha.” Kalimat itu menggema di ruang pertemuan panti, membuat sepasang mata anak-anak berkaca-kaca, namun juga menyala penuh semangat.
Ia berharap, kegiatan ini tidak berhenti sebagai momen tahunan. “Ini bukan yang terakhir. Kami akan terus hadir. Karena anak-anak ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah atau panti, tapi seluruh masyarakat Tallo.
Di akhir kunjungan, Ny. Dian Friani Husni dan rombongan menyempatkan diri foto bersama serta menyerahkan bingkisan tambahan berupa alat tulis dan buku cerita islami. Anak-anak pun tak mau melepas rombongan begitu saja. Beberapa berlari kecil ke pintu gerbang, melambaikan tangan, dan berteriak, “Terima kasih, Bu! Jangan lupa datang lagi ya!”
Hari Kartini di Tallo tahun ini meninggalkan makna: bahwa perjuangan seorang Kartini tak harus selalu monumental. Cukup dimulai dari tangan yang terulur untuk sesama, dan lisan yang tak henti memberi asa.




