Penacyber, Makassar-–Berbicara di depan orang banyak tidak selalu berarti pesan yang disampaikan akan langsung dipahami. Panjangnya penjelasan, tingginya suara, maupun banyaknya materi yang diberikan belum tentu membuat audiens benar-benar menangkap dan mengingat informasi.
Persoalannya bisa terletak pada cara sebuah pesan disampaikan dan bagaimana penerima memproses informasi tersebut.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan penguatan kapasitas Bunda PAUD Kota Makassar yang berlangsung di Hotel Aryaduta Makassar, Kamis (24/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai public speaking, termasuk pengenalan pendekatan Hypno Public Speaking dan Hypno Teaching.
Materi tersebut dibawakan Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Dr. H. Muh. Fadli Tahar. Pendekatan yang disampaikan menggabungkan keterampilan komunikasi dengan pemahaman mengenai perhatian, emosi, pola penerimaan informasi, serta penggunaan bahasa dalam proses komunikasi.
Public speaking selama ini kerap dipahami sebatas kemampuan tampil di depan umum, berbicara dengan percaya diri, dan menyampaikan materi secara terstruktur.
Namun, komunikasi yang efektif memiliki persoalan yang lebih mendasar: apakah pesan yang disampaikan benar-benar diterima dan dipahami oleh orang yang mendengarkan?
Setiap orang dapat memiliki cara berbeda dalam menerima informasi. Sebagian lebih mudah memahami informasi melalui gambar dan visualisasi, sementara yang lain terbantu oleh suara, intonasi, cerita, maupun contoh konkret.
Dalam konteks pembelajaran anak, perbedaan karakter dan pengalaman tersebut menjadi perhatian penting bagi guru maupun orang tua.
Karena itu, kemampuan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana perhatian dibangun, bagaimana bahasa digunakan, dan bagaimana pesan disesuaikan dengan kondisi pendengar.
Dalam pemaparan tersebut, Hypno Public Speaking diperkenalkan sebagai pendekatan komunikasi yang menekankan kemampuan membangun koneksi dengan audiens, mengelola perhatian, serta menyampaikan pesan secara lebih natural.
Pendekatan ini juga diarahkan agar pembicara tidak terlalu bergantung pada hafalan ketika menyampaikan materi.
Sementara itu, Hypno Teaching lebih diarahkan pada konteks pembelajaran. Guru diharapkan dapat menyampaikan materi dengan memperhatikan karakteristik peserta didik serta cara mereka menerima dan memahami informasi.
Dengan pendekatan tersebut, proses mengajar tidak berhenti pada aktivitas menjelaskan materi, tetapi juga berupaya menciptakan suasana yang membuat peserta didik lebih siap memperhatikan dan mengikuti proses pembelajaran.
Penting bagi Guru dan Orang Tua
Kemampuan komunikasi menjadi semakin penting ketika berhadapan dengan anak.
Guru dan orang tua tidak hanya dituntut mampu memberikan instruksi, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman, tertarik, dan terdorong untuk terlibat.
Misalnya, pesan “jangan takut” tidak hanya bergantung pada kalimat yang diucapkan. Cara menyampaikan, intonasi, ekspresi, serta suasana ketika pesan diberikan turut memengaruhi pengalaman anak.
Demikian pula kalimat “kamu pasti bisa” dapat menjadi lebih bermakna ketika disertai dukungan dan pengalaman yang membantu anak membangun kepercayaan terhadap kemampuannya.
Dalam konteks inilah keterampilan komunikasi menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
Tidak hanya guru dan orang tua, kemampuan tersebut juga relevan bagi berbagai profesi yang setiap hari berhadapan dengan orang lain, seperti trainer, coach, ASN, pemimpin organisasi, narasumber, fasilitator, MC, moderator, hingga tenaga pemasaran.
Tidak Berhenti pada Teori
Kegiatan penguatan kapasitas Bunda PAUD Kota Makassar tersebut tidak hanya diisi dengan pemaparan materi. Peserta juga mendapatkan praktik public speaking untuk mengasah kepercayaan diri serta kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif.
Praktik menjadi bagian penting karena kemampuan berbicara tidak cukup hanya dipahami secara teori. Kemampuan tersebut membutuhkan latihan agar peserta terbiasa mengelola suara, bahasa tubuh, struktur pesan, serta interaksi dengan audiens.
Pada akhirnya, komunikasi yang efektif bukan semata-mata tentang seberapa panjang seseorang berbicara.
Yang lebih penting adalah apakah pesan tersebut dapat diperhatikan, dipahami, dirasakan, dan diingat oleh orang yang mendengarnya.
Karena komunikasi yang baik bukan sekadar membuat seseorang mampu berbicara di depan orang lain, melainkan membuat pesan yang disampaikan dapat dipahami dan memberikan pengalaman positif bagi penerimanya.




