Penacyber, Makassar–Nama-nama kandidat Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan mulai mengerucut. Dari sejumlah figur yang sempat mencuat, kini tersisa tiga nama yang dinilai paling berpeluang dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel mendatang.
Sebelumnya, petahana Taufan Pawe (TP) sempat digadang-gadang kembali maju. Namun, anggota DPR RI tersebut telah menyatakan mundur dan memilih fokus menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat di Senayan. Selain TP, nama Adnan Ichsan YL juga kerap disebut-sebut, tetapi belakangan tidak lagi menunjukkan aktivitas politik yang mengarah pada pencalonan.
Dengan mundurnya TP dan meredupnya nama Adnan Ichsan YL, kini tersisa tiga figur yang dinilai memiliki peluang besar memperebutkan kursi Ketua Golkar Sulsel. Mereka adalah Munafri Arifuddin atau Appi yang saat ini menjabat Wali Kota Makassar, Andi Ina Kartika Sari selaku Bupati Barru, serta Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mantan Wali Kota Makassar.
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin, Ali Armunanto, menilai keputusan Taufan Pawe untuk tidak maju kembali bukanlah keputusan sederhana. Menurutnya, alasan fokus sebagai anggota DPR RI yang disampaikan ke publik merupakan alasan normatif dan mudah diterima, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan lanjutan.
“Namun jika dianalisis lebih dalam, terdapat faktor-faktor politik lain yang cukup kuat. Saya melihat sebelumnya ambisi Pak Taufan Pawe untuk maju masih besar, sehingga mundurnya beliau tentu dipengaruhi pertimbangan politik tertentu,” ujar Ali, Kamis (25/12/2025).
Ali menduga salah satu faktor utama adalah belum adanya restu dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Dalam kontestasi Musda, restu DPP dinilai sangat menentukan arah dukungan.
“Tidak adanya restu DPP bisa menjadi alasan kuat. Itu semacam bargaining politik agar Pak Taufan Pawe tidak maju dan memberi ruang bagi kandidat lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun Taufan Pawe masih memiliki kekuatan politik, keputusannya untuk tetap maju justru berpotensi mengganggu peta kekuatan kandidat lain. Oleh karena itu, langkah mundur dinilai lebih rasional demi menjaga keseimbangan internal partai.
“Kalau beliau maju, bisa saja mengacaukan konfigurasi kekuatan kandidat tertentu. Di situ kemudian muncul apa yang biasa disebut politik ‘dagang sapi’,” katanya.
Dalam skema tersebut, lanjut Ali, Taufan Pawe tetap memiliki posisi tawar meski tidak maju sebagai calon. Basis dukungan dan jejaring politik yang dimilikinya menjadi komoditas penting dalam dinamika internal Golkar.
“Ada politik saling memberi. Pak Taufan Pawe tidak maju, tetapi ada kompensasi politik, baik dari DPP maupun dari kandidat yang berharap mendapatkan dukungan beliau,” paparnya.
Terkait arah dukungan TP, Ali menyebut hal itu sangat bergantung pada kandidat yang memiliki pengaruh paling kuat di DPP Golkar. Meski tidak menyebutkan secara eksplisit, ketiga kandidat dinilai sama-sama memiliki peluang.
Menurut Ali, Munafri Arifuddin memiliki keuntungan tersendiri karena disebut telah meraup dukungan dari banyak DPD II. Selain itu, kehadiran Muhyiddin sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Golkar Sulsel yang disambut langsung oleh Appi dinilai sebagai sinyal politik yang cukup kuat.
“Kehadiran Pak Muhyiddin sebagai Plt bisa menjadi indikasi dan berpotensi memberi keuntungan elektoral bagi Appi dalam pemilihan Ketua Golkar Sulsel,” ujarnya.
Sementara itu, Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari juga dinilai memiliki peluang, mengingat kedekatan keduanya dengan politisi senior Golkar seperti Nurdin Halid dan Idrus Marham. Selain itu, nama-nama elite Golkar seperti Jusuf Kalla dan Erwin Aksa masih memiliki pengaruh signifikan di tingkat pusat.
“Relasi itu tetap ada dan patut diperhitungkan, meski pengaruhnya bisa berbeda-beda dibandingkan elite pendukung kandidat tertentu,” tutup Ali.*




