Penacyber, Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) kian merasuk ke berbagai sendi kehidupan. Bukan sekadar membantu pekerjaan manusia, kini AI dan robot mulai menggantikan peran manusia di sektor-sektor yang selama ini dianggap aman,
Fenomena ini bukan lagi fiksi ilmiah. Di Amerika Serikat, Amazon telah mengandalkan ribuan robot di gudang-gudangnya untuk memindahkan, menyortir, hingga mengemas barang. Di China, pergerakannya bahkan lebih jauh: robot humanoid mulai mengelola toko ritel secara mandiri.
Pada Agustus 2025, startup robotik asal China, Galbot, membuka sebuah kios di Beijing yang dikelola sepenuhnya oleh robot menyerupai manusia (humanoid). Mereka menyebutnya sebagai “toko pertama di dunia yang dioperasikan oleh humanoid otonom.”
Robot yang digunakan adalah Galbot G-1, robot berlengan dua yang pertama kali diluncurkan Juni 2024. Robot ini bergerak di seluruh area kios, mengambil barang, dan menyerahkannya ke pelanggan persis seperti karyawan manusia pada umumnya.
“Robot Galbot G-1 mengelola semua, melayani ribuan pelanggan tiap hari. Mulai dari menyapa, menyajikan minuman, camilan, hingga obat-obatan. Galbot menangani tiap pesanan tanpa perintah dari jarak jauh,” ungkap perusahaan dalam pernyataan resminya, pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Robot ini digerakkan oleh dua sistem AI andalan: GroceryVLA dan GraspVLA, yang memungkinkannya memahami pesanan dan menggenggam barang dengan presisi.
Meski terdengar canggih, pergerakan Galbot G-1 masih cenderung lambat. Secara fungsional, kios ini belum jauh berbeda dengan vending machine pintar. Namun ambisi Galbot sangat besar.
CEO Galbot, Wen Airong, menargetkan pembukaan 100 toko di 10 kota di China pada tahun 2026. Untuk mencapai itu, dua tantangan besar harus diatasi:
1. Interaksi yang lebih alami sistem pengenalan suara masih kesulitan menghadapi variasi volume suara dan perbedaan aksen di dunia nyata.
2. Kecepatan operasi robot masih bergerak lebih lambat dibanding pekerja manusia.
Menurut laporan Futurism, tantangan terbesar dalam pengembangan robot humanoid justru terletak pada pergerakan kaki. Hingga kini, belum ada desain baku yang memungkinkan robot berjalan stabil di berbagai medan.
Inovasi seperti ini menjadi alarm bagi sektor ritel Indonesia. Kehadiran robot pengelola toko di China bisa menjadi cikal bakal tren yang suatu hari hadir di tanah air. Jika teknologi ini matang dan biayanya terjangkau, bukan tidak mungkin minimarket seperti Indomaret dan Alfamart akan mulai mengganti sebagian peran karyawan dengan robot.
“Ini bukan lagi tentang apakah AI akan mengambil alih pekerjaan, tapi kapan dan secepat apa,” ujar pengamat teknologi dalam diskusi daring pekan ini.
Amazon di AS, pusat pelatihan robot di Wuhan, hingga kios humanoid di Beijing semua menunjukkan bahwa otomatisasi ritel bergerak cepat. Di satu sisi, ini menjanjikan efisiensi dan layanan 24/7. Di sisi lain, ancaman terhadap lapangan kerja sektor ritel dan jasa menjadi semakin nyata.*




