Penacyber, Makassar—Pemerintah Kecamatan Tallo menunjukkan komitmen serius dalam penanganan masalah persampahan dengan menggelar pelatihan pengelolaan sampah terintegrasi berbasis urban farming. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Tallo pada Selasa (12/5/2026) ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber kredibel, yakni Andi Fadly Arifuddin, Tenaga Ahli Walikota Makassar Bidang Urban Farming Lingkungan Hidup, serta Mashud Azikin dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar. Para peserta yang hadir terdiri atas lurah se-Kecamatan Tallo, Ketua LPM se-Kecamatan Tallo, Ketua Kelompok Pengelola Urban Farming se-Kecamatan Tallo, serta Ketua Kelompok Pengelola Maggot kelurahan se-Kecamatan Tallo.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman komprehensif terkait strategi pengelolaan sampah terpadu melalui pemanfaatan urban farming, pengolahan sampah organik, budidaya maggot, serta pengembangan lingkungan produktif yang bernilai ekonomis.
Andi Fadly Arifuddin menjelaskan bahwa urban farming bukan sekadar bercocok tanam di perkotaan, melainkan sebuah gerakan holistik yang mengintegrasikan pengelolaan limbah rumah tangga dengan ketahanan pangan.

“Bayangkan, sampah dapur yang selama ini dianggap mengganggu, setelah diolah menjadi kompos dan pakan maggot, bisa menghasilkan sayuran segar dan protein alternatif untuk pakan ternak. Ini ekonomi sirkular yang nyata,” ujarnya di hadapan peserta.
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa Kota Makassar menghasilkan ribuan ton sampah setiap harinya, dan sampah organik mendominasi hingga 60 persen. “Jika sampah organik ini dikelola dengan sistem maggot dan komposting terintegrasi, kita tidak hanya mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tapi juga menciptakan lapangan kerja baru,” tambahnya.
Selain itu, Andi Fadly menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kecamatan, kelurahan, dan kelompok masyarakat. “Keberhasilan program ini terletak pada konsistensi dan gotong royong. Jangan hanya berhenti di pelatihan, tapi harus ada pendampingan berkelanjutan,” pesannya.
Mashud Azikin dari Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar menambahkan aspek teknis budidaya maggot. Ia mendemonstrasikan cara pembuatan biopori komposter sederhana dan teknik panen maggot yang higienis.

Diketahui, program ini sejalan dengan misi Pemerintah Kota Makassar dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan menciptakan Kota Makassar yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. Target jangka pendeknya adalah menurunkan volume sampah yang diangkut ke TPA hingga 30 persen melalui pengolahan mandiri di tingkat kecamatan.
Harapannya, setiap kelurahan di Kecamatan Tallo mampu memiliki setidaknya satu pusat urban farming terintegrasi yang dikelola oleh kelompok masyarakat setempat. “Dengan pelatihan ini, saya ingin melihat aksi nyata. Bukan sekadar teori,” tegas Andi Fadly.
Camat Tallo, Andi Husni, dalam sambutannya mengungkapkan kebanggaannya terhadap antusiasme peserta yang hadir. Ia mengatakan bahwa Kecamatan Tallo siap menjadi percontohan bagi kecamatan lain dalam pengelolaan sampah berbasis urban farming.
“Kita tidak bisa terus menerus menyalahkan pemerintah soal banjir dan sampah. Mari mulai dari diri sendiri, dari rumah tangga masing-masing. Pelatihan ini adalah jawaban atas keluhan warga selama ini,” ujar Andi Husni dengan tegas.

Lebih lanjut, Andi Husni juga menyoroti potensi ekonomi dari budidaya maggot. “Maggot tidak hanya mengurangi sampah, tapi juga bisa dijual sebagai pakan ternak. Harganya cukup menjanjikan. Ini peluang usaha baru bagi warga Tallo,” jelasnya.
Diketahui, Kecamatan Tallo memiliki 15 kelurahan yang sebagian besar masih menghadapi tantangan pengelolaan sampah rumah tangga. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan setiap kelurahan dapat mengidentifikasi lahan tidur atau pekarangan kosong untuk dijadikan kebun urban farming terpadu.
Sambungnya, pihak kecamatan akan membentuk tim pendamping yang terdiri atas penyuluh lapangan dan kader lingkungan. “Kami tidak akan melepas begitu saja setelah pelatihan. Pendampingan akan berjalan selama enam bulan ke depan untuk memastikan program ini berhasil,” janji Andi Husni.
Harapan kami, seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di wilayah masing-masing guna mendukung dan menyukseskan program-program prioritas Pemerintah Kota Makassar, khususnya dalam bidang lingkungan hidup dan ketahanan pangan perkotaan.
“Kepada para lurah dan ketua LPM, saya titip warisan untuk generasi mendatang. Mulailah dari hal kecil, pilah sampah dari rumah, olah sampah organik, tanam sayuran di pekarangan. Insya Allah, Tallo akan menjadi kecamatan yang bersih, hijau, dan produktif,” tutup Andi Husni.




