Penacyber, Makassar –PT PLN (Persero) membidik peningkatan kapasitas pengolahan sampah plastik dalam program ekonomi sirkular di Makassar hingga dua kali lipat, dari 10,5 ton menjadi 20 ton. Langkah ini ditempuh untuk memperluas penetrasi pasar produk daur ulang nasional sekaligus menyerap lebih banyak limbah perkotaan yang kian meningkat.
Sejak kerja sama dengan mitra binaan, Rappo Indonesia, dimulai pada akhir 2024, program tersebut telah memproses sekitar 10,5 ton sampah limbah keras menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, seperti furnitur, plakat, dan aksesori.
Officer TJSL PLN UID Sulselrabar, Khairunnisa, mengatakan peningkatan target kapasitas ini dirancang untuk merespons pertumbuhan aktivitas ekonomi kota dan tingginya potensi limbah plastik yang berasal dari kafe hingga perkantoran di Makassar.
“Ke depan kami menargetkan penyerapan sampah naik dari 10,5 ton menjadi 20 ton. Kami juga terdorong memperluas kolaborasi dengan instansi perkantoran dan korporasi agar volume sampah yang dikelola meningkat, sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja,” ujar Khairunnisa di Makassar, Senin (10/8/2026).
Guna mendukung peningkatan kapasitas produksi tersebut, PLN menyalurkan bantuan infrastruktur berupa mesin pencacah, mesin oven, mesin injeksi, hingga alat profil kayu. Ke depan, perseroan juga menyiapkan penambahan mesin press serta program sertifikasi kompetensi bagi para pekerja guna memastikan kualitas produk daur ulang semakin kompetitif.
General Affairs Rappo Indonesia, Riswanda Fatriansyah, menyampaikan bahwa sampah plastik yang diolah didominasi oleh jenis polyethylene terephthalate (PET) dan high density polyethylene (HDPE), seperti botol minuman dan botol oli, dengan volume pengolahan rutin mencapai 50 kg hingga 100 kg per bulan.
Hasil olahan limbah plastik tersebut diproduksi menjadi meja, kursi, plakat, nampan, hingga aksesori yang dipasarkan dengan rentang harga Rp75.000 sampai dengan lebih dari Rp3 juta per unit. “Produk hasil daur ulang ini tidak hanya dipasarkan di Makassar, tetapi juga telah menjangkau kota-kota besar di Pulau Jawa. Khusus produk plakat, pemasarannya bahkan sudah menembus pasar Jakarta,” jelas Riswanda.
Selain dari sisi komersial, ekspansi kapasitas pengolahan limbah ini turut menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir di kawasan Untia, Makassar. Kegiatan tersebut mampu menyerap 20 hingga 25 tenaga kerja lokal yang mencakup nelayan dan kelompok berpenghasilan rendah. Adapun pendapatan rata-rata bagi tenaga kerja mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan.
Ke depan, Rappo Indonesia bersama PLN berencana memperluas cakupan bisnis sirkular dengan mengolah jenis limbah lain, seperti sampah organik dan kertas. Langkah ini diharapkan mampu menahan laju pembuangan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan di Kota Makassar.*




