Penacyber, Jakarta-–Pengiriman minyak global melalui Selat Hormuz masih terganggu setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menolak permintaan hampir setiap hari dari industri pelayaran untuk memberikan semacam ‘escort’, pengawalan militer. Penolakan itu didasarkan pada penilaian bahwa risiko serangan di jalur perairan strategis tersebut masih terlalu tinggi.
Penilaian Angkatan Laut AS menandakan gangguan terhadap ekspor minyak dari Timur Tengah kemungkinan berlanjut. Situasi ini juga menunjukkan perbedaan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengatakan Washington siap mengawal kapal tanker jika diperlukan untuk memulihkan lalu lintas pelayaran.
Dikutip reuters, aktivitas pengiriman melalui selat yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu hampir terhenti sejak perang Amerika Serikat – Israel melawan Iran pecah lebih dari sepekan lalu. Kondisi tersebut mendorong harga minyak global melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran sebelumnya menyatakan Selat Hormuz ditutup dan Iran akan menembaki kapal yang mencoba melintas. Beberapa kapal dilaporkan telah terkena serangan.
Angkatan Laut AS diketahui rutin menggelar pengarahan dengan pelaku industri pelayaran dan minyak. Dalam pertemuan tersebut, pihak militer menyatakan belum dapat memberikan pengawalan untuk sementara waktu, menurut tiga sumber industri pelayaran yang mengetahui pembahasan tersebut.
Sumber-sumber itu menyebut permintaan pengawalan militer hampir diajukan setiap hari oleh perusahaan pelayaran. Namun hingga pengarahan terakhir pada Selasa, posisi Angkatan Laut tidak berubah. Pengawalan baru dapat dipertimbangkan setelah risiko serangan menurun.
Trump sebelumnya menegaskan Amerika Serikat siap mengawal kapal tanker jika situasi menuntut.
“Ketika saatnya tiba, Angkatan Laut AS dan para mitranya akan mengawal kapal tanker melalui selat tersebut, jika diperlukan. Saya harap itu tidak akan diperlukan, tetapi jika diperlukan, kami akan mengawal mereka melewatinya,” kata Trump dalam konferensi pers di resor Mar-a-Lago, Florida.
Sementara itu, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan militer AS sedang mempelajari berbagai opsi jika pemerintah memerintahkan pengawalan kapal di selat tersebut.
“Kami sedang mempertimbangkan sejumlah opsi di sana,” kata Caine kepada wartawan di Pentagon.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa hingga kini belum ada kapal komersial yang dikawal oleh militer AS melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, Menteri Energi AS Chris Wright sempat mengunggah pernyataan di platform X bahwa Angkatan Laut telah mengawal satu kapal, namun unggahan itu kemudian dihapus.
Meski beberapa kapal masih melintas dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar lalu lintas pelayaran tetap tertahan dengan ratusan kapal berlabuh di sekitar kawasan tersebut.
Eksportir minyak terbesar dunia, Saudi Aramco, memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menimbulkan “konsekuensi katastrofik” bagi pasar minyak global.
Analis keamanan maritim menilai upaya mengamankan jalur tersebut tidak mudah, bahkan jika dilakukan oleh koalisi internasional. Iran dinilai memiliki kemampuan menebar ranjau laut serta menggunakan drone serang murah untuk menargetkan kapal.
Direktur European Institute for Studies on the Middle East and North Africa, Adel Bakawan, mengatakan pengamanan Selat Hormuz berada di luar kemampuan negara mana pun saat ini.
“Baik Prancis, Amerika Serikat, koalisi internasional, maupun siapa pun tidak berada dalam posisi untuk mengamankan Selat Hormuz,” .
Di sisi lain, Pentagon menyatakan militer AS telah menargetkan kapal penebar ranjau dan fasilitas penyimpanan ranjau milik Iran. Washington juga memperingatkan akan meningkatkan serangan jika pengiriman minyak melalui selat tersebut tidak kembali berjalan.(**)




